Perusahaan

Pentingnya data percakapan publik di Twitter saat terjadi bencana alam

Oleh ‎@kathleenreen‎
Kamis, 30 September 2021

Perubahan iklim mengakibatkan cuaca ekstrem di seluruh dunia dan memicu berbagai fenomena bencana alam seperti banjir, kebakaran hutan, serta peningkatan frekuensi angin topan. Ketika cuaca ekstrem melanda dunia; orang-orang datang ke Twitter untuk melihat dan membicarakan peristiwa bencana alam yang akan, sedang, dan telah terjadi. Didukung dengan insight dan analisa; percakapan real-time di Twitter dapat dimanfaatkan untuk memberikan peringatan dini, penyediaan bantuan, dan pemantauan situasi di lapangan. 

Twitter menyediakan akses programatik ke data Twitter kepada perusahaan dan pengguna lewat API (antarmuka pemrograman aplikasi), yang memungkinkan orang-orang untuk mengembangkan aplikasi dan perangkat agar konsumen bisa mendapatkan insight dari Twitter. Dengan terjadinya bencana alam seperti  banjir di Jakarta, kebakaran hutan di Australia, dan Topan Hagibis di Jepang; Twitter bekerjasama dengan Peta Bencana dan Mitra Resmi Twitter lainnya, yaitu Brandwatch untuk membantu komunitas lokal memahami tren berdasarkan data percakapan. Twitter tidak hanya menjadi tempat berbagi informasi, menggalang dana, atau memberikan dukungan satu sama lain; Tweet juga menjadi sumber data sosial yang digunakan untuk memahami isu perubahan dan krisis iklim secara lebih luas. Tweet juga dimanfaatkan untuk membantu para pembuat kebijakan dalam menanggapi keadaan darurat iklim di masa depan. 

Tweet ini tidak tersedia
Tweet ini tidak tersedia.

Bekerja sama dengan Design I/O, studio kreatif terkemuka, Twitter meluncurkan laman web interaktif untuk melihat bagaimana percakapan berkembang di Twitter ketika cuaca ekstrem sedang terjadi. Berikut ini rangkumannya: 

  • Sebelum bencana/cuaca ekstrem terjadi: Bahkan sebelum fenomena terjadi di suatu area, orang-orang sudah mulai menge-Tweet tanda-tanda terjadinya bencana alam. Misalnya: ketinggian air yang mulai meningkat, atau suhu yang lebih kering dan lebih panas dari biasanya. Orang-orang juga menge-Tweet persiapan yang mereka lakukan; seperti menyiapkan tempat tinggal atau lingkungan sekitar mereka dalam menghadapi kemungkinan terjadinya kebakaran, atau membuat struktur bangunan sebagai pertahanan banjir atau badai. 
  • Ketika bencana/cuaca ekstrem terjadi: Saat dampak cuaca ekstrem mulai dirasakan oleh orang-orang, peringatan dini melalui percakapan di Twitter mulai terlihat. Pada masa darurat bencana, volume percakapan di Twitter meningkat drastis saat orang-orang menge-Tweet tentang apa yang mereka alami secara real-time.
  • Sesudah bencana/cuaca ekstrem: Pasca bencana cuaca ekstrem, percakapan di Twitter mulai beralih ke topik-topik seputar bantuan kemanusiaan. Misalnya: penggalangan donasi untuk persediaan kebutuhan pokok, misi penyelamatan atau bantuan medis, serta donasi finansial untuk membantu orang-orang yang terkena dampak. 
Tweet ini tidak tersedia
Tweet ini tidak tersedia.

Percakapan yang memanas
Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), kelompok penelitian iklim dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), baru-baru ini melaporkan penemuannya; bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia telah berdampak pada perubahan cuaca dan iklim ekstrem yang terjadi di seluruh dunia – termasuk peningkatan frekuensi dan intensitas suhu panas ekstrem, gelombang panas laut, dan curah hujan lebat.

Banyaknya peristiwa cuaca ekstrem juga terlihat dalam percakapan publik di Twitter. Sampel Tweet berbahasa Inggris dari 2013 hingga 2020 menunjukkan, bahwa penyebutan “perubahan iklim” mengalami pertumbuhan rata-rata 50% setiap tahunnya.

Tweet ini tidak tersedia
Tweet ini tidak tersedia.

Percakapan ini memiliki pengaruh besar. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana para aktivis lingkungan melakukan percakapan di Twitter untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap krisis iklim, mengatur komunitas mereka, dan terhubung dengan orang orang yang passionate untuk melindungi bumi ini. 

Para pengembang terus menginspirasi kami dengan cara mereka membantu orang-orang yang terkena dampak selama bencana alam berlangsung. Visualisasi #ExtremeWeather menunjukkan hal-hal yang bisa dicapai ketika pengembang dan mitra komunitas kami memanfaatkan Twitter API dan mengaplikasikan insight untuk kepentingan publik. Kami harap pencapaian ini dapat terus menginspirasi terjadinya percakapan, meningkatkan kesadaran, serta menghubungkan mereka yang passionate terhadap isu perubahan iklim dan upaya bantuan bencana. 

Dengan memanfaatkan sejumlah besar data percakapan publik di Twitter, para pengembang memiliki peluang untuk menciptakan solusi yang dapat membantu komunitas lokal selama cuaca ekstrem tak terduga berlangsung, atau mempelajari sentimen publik terhadap perubahan iklim secara objektif.

Tweet ini tidak tersedia
Tweet ini tidak tersedia.

Mengatasi krisis iklim bersama
Sebagai rumah bagi sekitar setengah populasi dunia, kawasan Asia Pasifik adalah salah satu yang paling rentan terkena dampak buruk perubahan iklim. Twitter berperan penting dalam menyediakan informasi yang dapat ditindaklanjuti saat cuaca ekstrem terjadi, dan dapat terus melakukannya dengan dukungan dan komitmen dari para pengembang yang bersemangat menciptakan solusi mengatasi krisis iklim.

Karakter Twitter yang unik dan publik telah digunakan oleh orang-orang di seluruh dunia untuk berbagi dan bertukar informasi di saat krisis. Kami bertanggung jawab untuk memastikan pengguna dapat menemukan informasi yang mereka butuhkan; terutama saat terjadinya bencana alam. Kami pun telah berupaya untuk memberikan informasi kredibel dari media yang terpercaya, lembaga pemerintah, serta organisasi bantuan dan relawan. Kami telah melihat bagaimana data Twitter dapat digunakan secara real-time untuk membantu orang-orang di lapangan, serta meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap dampak dari sebuah krisis. Bersama dengan para mitra, kami selalu berkomitmen mendorong lebih banyak orang untuk berperan aktif dalam menciptakan perubahan sosial yang positif.”

Tweet ini tidak tersedia
Tweet ini tidak tersedia.

Studi Kasus: Banjir di Jakarta oleh Peta Bencana
Pada Januari 2020, curah hujan tinggi membanjiri Jakarta dengan besar volume air yang tidak dapat ditampung oleh infrastruktur yang ada. Banjir besar ini melanda sebagian besar ibu kota, mencelakakan puluhan jiwa, dan membuat ribuan orang mengungsi. Ketika air meluap dan menggenangi jalanan, menutup salah satu bandara ibu kota, dan memutus aliran listrik; jutaan penduduk Jakarta terus mencari berbagai informasi terkini di Twitter. Pada minggu pertama Januari 2020, ada lebih dari 20.000 Tweet di Jakarta yang membicarakan tentang banjir.

Untuk dengan cepat mengumpulkan Tweet percakapan publik tentang apa yang sedang terjadi, Peta Bencana membuat “bot kemanusiaan” (humanitarian bot) di Twitter menggunakan perangkat lunak berbasis open source bernama CogniCity. Bot ini memantau Tweet yang ditujukan ke akun @PetaBencana dengan kata kunci terkait banjir dan bencana (seperti “banjir” dari orang-orang di seluruh Indonesia, dan secara otomatis merespon dengan Tweet yang berisikan instruksi tentang cara berbagi observasi, lalu menggunakan informasi ini untuk membuat peta banjir.

Peta banjir yang disediakan oleh Peta Bencana diakses lebih dari 259.000 kali ketika banjir mencapai puncaknya, dan mengalami peningkatan aktivitas sebesar 24.000% dalam waktu seminggu. Masyarakat memantau peta tersebut untuk memahami situasi banjir terkini, menghindari daerah banjir, serta membuat keputusan dalam merespon dan mengutamakan keselamatan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta (BPBD DKI Jakarta) juga memantau peta tersebut untuk menjawab kebutuhan warga, sekaligus berkoordinasi untuk menentukan langkah penyelamatan berdasarkan tingkat kerusakan dan kebutuhan yang dilaporkan. Ketika air surut atau bantuan tiba, mereka tetap memperbarui informasi mengenai daerah yang masih terdampak banjir.

Lihat studi kasus lengkapnya di sini.

Tweet ini tidak tersedia
Tweet ini tidak tersedia.

Studi Kasus: Kebakaran Hutan Australia oleh Brandwatch
Sebelum pandemi global terjadi pada tahun 2020, sebagian besar masyarakat di Australia sudah menghadapi bencana alam yang mengenaskan. Dari Juni 2019 hingga Maret 2020, kebakaran di Australia telah menghabiskan 13,6 juta hektar di New South Wales serta menghancurkan satwa liar dan kawasan ekologi (NYT, 2020).

Brandwatch, Mitra Resmi Twitter, menganalisis percakapan selama kebakaran ini berlangsung di Twitter; termasuk 2,8 juta orang di seluruh dunia yang terlibat dalam percakapan tersebut dan hampir 10 juta Tweet publik tentang bencana kebakaran hutan dari Desember 2019 hingga Maret 2020.

Orang orang menggunakan Twitter untuk saling terhubung. Berbagai komunitas bersatu untuk saling membantu dan menggalang dana, seperti lelang #AuthorsForFireys dan gerakan ‘Temukan Tempat Tidur (Find a Bed)’ untuk memberikan akomodasi darurat bagi mereka yang mengungsi akibat kebakaran hutan. Dalam waktu satu minggu sejak diluncurkan gerakan ‘Temukan Tempat Tidur’ telah berhasil mengumpulkan 7.000 tempat tinggal dan menampung sekitar 100 orang, termasuk seorang lansia wanita berusia 104 tahun yang kehilangan rumahnya.

Lihat studi kasus lengkapnya di sini.

Tweet ini tidak tersedia
Tweet ini tidak tersedia.

Studi Kasus: Topan Hagibis
Pada tahun 2019, Jepang Utara dilanda Topan Hagibis yang mematikan - yang mengakibatkan terjadinya hujan setinggi tiga kaki hanya dalam waktu 24 jam di beberapa wilayah, banjir bandang, dan 74 orang meninggal (NHK, 2019). Hujan deras dari Topan Hagibis menyebabkan lebih dari 20 sungai di Jepang meluap dengan cepat dan penduduk terpaksa harus meninggalkan rumah mereka untuk pindah ke tempat yang lebih tinggi.

Salah satu Mitra Resmi Twitter menganalisis percakapan untuk menemukan kata kunci terkait banjir, gempa bumi, pemadaman listrik, dan bencana lainnya. Mitra mereka, yaitu JX Press, memberikan peringatan dengan cepat, rata-rata 20 hingga 45 menit sebelum portal berita menginformasikannya kepada publik. Dengan akses yang diberikan ke data Twitter seperti ini, pemerintah dapat mengetahui informasi terkini dan mengkomunikasikannya lebih efektif kepada publik selama krisis berlangsung, serta menganalisis data tentang bagaimana kondisi ini berdampak kepada masyarakat.

Lihat studi kasus lengkapnya di sini.

Tweet ini tidak tersedia
Tweet ini tidak tersedia.